Para penduduk kota-kota besar, seperti Jakarta, Medan, Surabaya dan
seterusnya. Adalah penduduk dengan sifat Heterogen atau majemuk. Dengan
demikian, sifat Primordialisme cenderung tidak kentara bagi penduduk perkotaan,
seperti penduduk Ibu kota negara yakni Jakarta ataupun penduduk yang bermukim di Ibu kota Provinsi lain dan kota kota heterogen lainnya.
Adapun pengertian Primordialisme dinukil dari kbbi.web.id adalah
"Perasaan kesukuan yang berlebihan." Karena keseragaman penduduk, baik
pendatang,ataupun warga asli yang lahir, besar dan tinggal di daerah kota,
tentu tidak lah pantas jika memiliki sifat Primordialisme, mengingat tidak lah
hanya satu suku atau satu agama yang tinggal pada wilayah yang di diami
penduduk tersebut, dan sangat tidak wajar jika seorang penduduk daerah yang
bermasyrakat heterogen hanya berinteraksi dengan orang - orang satu suku atau
satu agama dengannya.
Fanatisme sendiri menurut wikipedia "Fanatisme adalah paham atau
perilaku yang menunjukkan ketertarikan terhadap sesuatu secara berlebihan.
Filsuf George Santayana mendefinisikan fanatisme sebagai, "melipatgandakan
usaha Anda ketika Anda lupa tujuan Anda"dan menurut Winston Churchill,
"Seseorang fanatisme tidak akan bisa mengubah pola pikir dan tidak akan
mengubah haluannya". Bisa dikatakan seseorang yang fanatik memiliki
standar yang ketat dalam pola pikirnya dan cenderung tidak mau mendengarkan
opini maupun ide yang dianggapnya bertentangan."
Lain halnya dengan Akidah, Akidah Islam (Al-'Aqidah al-Islamiyah) adalah
iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya dan hari
Akhir, juga pada qadha' dan qadar baik buruk dari Allah.Iman itu sendiri
bermakna : pembenaran yang pasti (at-tashdiq al-jazim), yang sesuai dengan
kenyataan yang munculnya dari dalil/bukti.(1)
Seorang yang mengaku sebagai Muslim semestinya yakin dan percaya seratus
persen akan adanya Allah, Tuhan sang pencipta, dan mempercayai risalah yang
dibawa oleh utusannya yakni Muhammad bin Abdullah SAW (salawat dan salam Allah
terlimpah atasnya) adapun dalil (bukti) keberadaan Tuhan ini dapat di
analogikan dalam kisah dibawah ini.
Ada
kisah zaman dulu tentang orang atheist yang tidak percaya dengan Tuhan. Dia
mengajak berdebat seorang alim mengenai ada atau tidak adanya Tuhan. Di antara
pertanyaannya adalah: “Benarkah Tuhan itu ada” dan “Jika ada, di manakah Tuhan
itu?”Ketika orang atheist itu menunggu bersama para penduduk di kampung
tersebut, orang alim itu belum juga datang. Ketika orang atheist dan para
penduduk berpikir bahwa orang alim itu tidak akan datang, barulah muncul orang
alim tersebut.
“Maaf
jika kalian menunggu lama. Karena hujan turun deras, maka sungai menjadi
banjir, sehingga jembatannya hanyut dan saya tak bisa menyeberang.
Alhamdulillah tiba-tiba ada sebatang pohon yang tumbang. Kemudian, pohon
tersebut terpotong-potong ranting dan dahannya dengan sendirinya, sehingga jadi
satu batang yang lurus, hingga akhirnya menjadi perahu. Setelah itu, baru saya
bisa menyeberangi sungai dengan perahu tersebut.”
Begitu
orang alim itu berkata seperti itu, si Atheist dan juga para penduduk kampung
tertawa terbahak-bahak. Dia berkata kepada orang banyak, “Orang alim ini sudah
gila rupanya. Masak pohon bisa jadi perahu dengan sendirinya. Mana bisa perahu
jadi dengan sendirinya tanpa ada yang membuatnya!” Orang banyak pun tertawa
riuh.
Setelah
tawa agak reda, orang alim pun berkata, “Jika kalian percaya bahwa perahu tak
mungkin ada tanpa ada pembuatnya, kenapa kalian percaya bahwa bumi, langit, dan
seisinya bisa ada tanpa penciptanya? Mana yang lebih sulit, membuat perahu,
atau menciptakan bumi, langit, dan seisinya ini?” (2)
Banyak sekali bukti bukti yang dapat kita lihat dan cari, bahwa Tuhan itu
memang pada hakikatnya ADA, seperti jika dipikir bagaimana mungkin
keteraturan, keindahan alam ini, dapat terbentuk tanpa adanya Dzat yang
menciptakannya? Perputaran planet, jarak Bumi ke Matahari yang dapat diatur
sedemikian rupa sehingga suhu Bumi dapat menjadi layak untuk didiami bagi
Manusia, Tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan.
(Bersambung)
Referensi:
http://kbbi.web.id/primordialismedalam
(1) Arief.b Iskandar (2007) Islam dari akar hingga daunnya. Jakarta:
Al Azhar Press cetakan tahun 2014
(2)media-islam.or.id/2007/09/06/bukti-tuhan-itu-ada/
wikipedia.com